Selamat datang di Club MGi SUPER

SELAMAT DATANG DI BLOGER INI MONGGO DIPILIH
Tampilkan postingan dengan label BUDAYA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BUDAYA. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Januari 2011

Pesona Warna Kawah Kelimutu

Fri Sep 10 7:45am

  • Oleh Amril Taufik Gobel

    Inilah sebuah gunung yang menyimpan misteri sekaligus pesonanya. Gunung Kelimutu terletak di Desa Pemo, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, Pulau Flores, Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Dengan puncak berketinggian 1.690 m dari atas permukaan laut, gunung itu memiliki keunikan karena ada tiga buah danau kawah berbeda warna.

    Photo credits - Arif Fadillah
    Danau ini dikenal dengan nama Danau Tiga Warna karena memiliki tiga warna yang berbeda, yaitu merah, biru, dan putih. Walaupun begitu, warna-warna tersebut selalu berubah-ubah seiring perjalanan waktu. Tak kurang sudah 12 kali perubahan warna terjadi dalam waktu 25 tahun terakhir ini. Danau pertama dan kedua letaknya sangat berdekatan, sedangkan danau ketiga terletak menyendiri sekitar 1,5 km di bagian Barat. Perubahan warna ini diduga akibat adanya pembiasan cahaya matahari, adanya mikro biota air, terjadinya zat kimiawi terlarut, dan akibat pantulan warna dinding dan dasar danau.

    Kelimutu merupakan gabungan kata dari "keli" yang berarti gunung dan kata "mutu" yang berarti mendidih. Menurut kepercayaan penduduk setempat, warna-warna pada danau Kelimutu memiliki arti masing-masing dan memiliki kekuatan alam yang sangat dahsyat.
Photo credits - Arif FadillahDanau atau Tiwu Kelimutu dibagi atas tiga bagian yang sesuai dengan warna - warna yang ada di dalam danau. Danau berwarna biru atau "Tiwu Nuwa Muri Koo Fai" merupakan tempat berkumpulnya jiwa muda-mudi yang telah meninggal. Danau yang berwarna merah atau "Tiwu Ata Polo" merupakan tempat berkumpulnya jiwa orang-orang yang telah meninggal dan selama ia hidup selalu melakukan kejahatan/tenung. Sedangkan danau berwarna putih atau "Tiwu Ata Mbupu" merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang tua yang telah meninggal.

Luas ketiga danau itu sekitar 1.051.000 meter persegi dengan volume air 1.292 juta meter kubik. Batas antar danau adalah dinding batu sempit yang mudah longsor. Dinding ini sangat terjal dengan sudut kemiringan 70 derajat. Ketinggian dinding danau berkisar antara 50 sampai 150 meter.

Awal mulanya daerah ini diketemukan oleh Van Such Telen, warga negara Belanda, tahun 1915. Keindahannya dikenal luas setelah Y. Bouman melukiskan dalam tulisannya tahun 1929. Sejak saat itu wisatawan asing mulai datang menikmati danau yang dikenal angker bagi masyarakat setempat. Mereka yang datang bukan hanya pencinta keindahan, tetapi juga peneliti yang ingin tahu kejadian alam yang amat langka itu. Bagi penggemar hiking dan menyukai keindahan alam di desa pegunungan tropis, berwisata ke tempat ini merupakan pilihan terbaik. Kawasan Kelimutu telah ditetapkan menjadi Kawasan Konservasi Alam Nasional sejak 26 Februari 1992.

Untuk mencapai Gunung Kelimutu yang pernah meletus di tahun 1886 ini, butuh “perjuangan” tersendiri. Dari Kota Maumere, Kabupaten Sikka, Propinsi Nusa Tenggara Timur, butuh waktu sekitar 3 jam dengan mobil sewaan dengan kondisi jalan yang tidak terlalu bagus, berkelak-kelok, melintasi jurang dan tebing. Kita akan menemui kampung terdekat dengan kawah gunung Kelimutu yang bernama Kampung Moni.

Kampung ini terletak di Desa Koanara, Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende yang berjarak 13 kilometer dari Danau Kelimutu. Dari Moni hanya dibutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk mencapai bibir Danau Kelimutu.

Selain dari Maumere, Kelimutu juga dapat dicapai dari Ende menggunakan bus antarkota ataupun kendaraan sewaan, dengan harga dan waktu perjalanan yang relatif tidak jauh berbeda. Dari ibukota Propinsi NTT, yakni Kupang, pengunjung dapat menggunakan pesawat menuju kota Ende, di Pulau Flores, dengan waktu tempuh mencapai 40 menit. Kelimutu terletak sekitar 66 kilometer dari Kota Ende dan 83 kilometer dari Kota Maumere.

Photo credits - Arif Fadillah
Di Kampung Moni banyak dijajakan kain tenun Lio yang menjadi salah satu produk khas lokal disana dan dijual oleh penduduk setempat kepada para wisatawan. Di Kampung Moni pula terdapat penginapan yang bisa dipakai oleh wisatawan untuk menginap atau beristirahat.

Terdapat sekitar 20 homestay yang dikelola penduduk dengan tarif Rp 25.000- Rp 50.000 per malam sedangkan cottage milik pemerintah bertarif Rp 75.000-Rp 85.000. per malam. Edelweis, Pinus dan Cemara adalah sejumlah tumbuhan yang dapat kita temui saat memasuki kawasan Kelimutu.

Nah, selamat menikmati kawasan kawah danau 3 warna gunung Kelimutu yang eksotis itu!

Baca juga blog Amril

Rabu, 12 Januari 2011

7 Pesona Siem Reap

Unearthing Asia
  • Siem Reap, kota bekas markas tentara dari negara yang dikuasai penguasa haus darah Khmer Merah, kini berkembang secara mengagumkan menjadi tujuan wisata internasional. Bahkan Siem Reap mendapatkan status sebagai Situs Warisan Dunia dari UNESCO dan salah satu dari Tujuh Keajaiban Baru Dunia. Padahal baru 20 tahun lalu daerah ini terlarang bagi wisatawan, penduduk lokalnya diteror dan dikuasai oleh ketakutan akan salah satu rezim paling kejam di dunia.

    Saat ini, dengan reruntuhan kuno di wilayah Angkor Wat, Siem Reap menjadi kota yang hidup dan pada 2007 menerima kurang lebih satu juta pengunjung melalui bandara internasionalnya. Walau Angkor Wat merupakan pusat atraksi, namun bukan berarti kota Siem Reap tidak mendapat perhatian, dengan memiliki fasilitas restoran, museum dan galeri terbaik di wilayah tersebut.

    Photo credits - tylerdurden1

Angkor Wat yang Mengagumkan

Angkor Wat adalah candi terbesar, paling terpelihara baik, memiliki desain paling rumit dan paling mengagumkan di Indochina, sebuah permata di mahkota kerajaan Angkor yang luas. Candi itu merupakan sumber kebanggaan nasional dan diakui secara internasional, diselubungi relief Hindu mengenai epik Ramayana. Seperti kebanyakan candi Hindu di Asia, Angkor Wat terlihat lebih indah pada saat fajar atau menjelang matahari tenggelam, ketika langit dipenuhi warna yang menonjolkan kelima menaranya.

Photo credits - taiger808

Minggu, 28 November 2010

Seminar Internasional Jambi Heritage Hasilkan Tujuh Rumusan

Jambi (ANTARA) - Peserta seminar internasional Jambi Heritage yang berlangsung selama tiga hari berhasil merumuskan tujuh point penting terkait rencana menjadikan kawasan Candi Muaro Jambi dan Geodeversity Merangin sebagai warisan dunia.
"Setelah mendapat arahan gubernur, pembicara kunci serta paparan dari narasumber serta tanggapan dan masukan dari peserta akhirnya disepakati tujuh point penting," kata Junus Santrio Atmojo di Jambi, Minggu malam.
Direktur Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Pusat itu menyatakan hal tersebut saat membacakan hasil rumusan hasil seminar yang berlangsung tiga hari di Jambi.
Point pertama menggaris-bawahi bahwa masyarakat Jambi merasa bangga memiliki warisan budaya dan alam yang sangat penting artinya bagi pembentukan identitas kolektif sebagai "orang Jambi".
Dalam point kedua, seluruh pemangku kepentingan menyadari bahwa Jambi memainkan peranan penting dalam perkembangan agama Hindu-Budha di Asia serta berperan aktif di dalam proses pembentukan peradaban Nusantara seperti diketahui dalam catatan sejarah.
Saat ini kawasan arkeologi Muarajambi di Kabupaten Muaro Jambi menjadi contoh yang luar biasa dari kehidupan masyarakat Sumatera pada abad 6-14 Masehi. Kawasan ini menempati posisi strategis dalam perkembangan perdagangan dan kontak budaya antar bangsa.
Pada point ketiga, peranan strategis ini perlu diketahui generasi muda dan masyarakat dunia. Oleh karena itu menjaganya supaya tidak musnah atau menjadi rusak adalah prioritas yang penting sepanjang masa.
Keempat, selain itu Provinsi Jambi juga memiliki kekayaan alam yang tidak ternilai harganya, antara lain berupa batuan diendapkan pada masa Perem Awal dan Jura atau sekitar mulai 290 juta tahun lalu, yang saat ini menjadi satu-satunya lokasi di dunia yang perlu dijaga dan dilestarikan keberadaannya.
Point berikutnya disebutkan bahwa sebagai sumber ilmu pengetahuan dan sumber ekonomi alternatif yang bisa dimanfaatkan secara berkelanjutan, warisan budaya dan alam ini perlu dikelola secara baik menggunakan standar dunia.
Untuk maksud itu, kawasan Muarajambi dan formasi Geologi Merangin perlu didaftarkan kepada UNESCO sebagai warisan dunia.
Pengakuan dunia atas kedua kawasan ini diharapkan dapat meningkatkan kepedulian pemangku kepentingan nasional maupun perhatian masyarakat global.
Dalam point keenam disebutkan guna memenuhi harapan itu, sesuai dengan peraturan perundang-undangan, pemerintah dapat segera memulai pendataan potensi kewilayahan, penetapan batas-batas sebagai kawasan konservasi dan membentuk lembaga pengelola bersifat multi stakeholders.
Sementara dalam point ketujuh disebutkan bahwa penetapan tersebut seperti termuat pada butir keenam, harus dilakukan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku, ujarnya.
Dasar rumusannya adalah Jambi memiliki kekayaan budaya dan alam yang unik, tidak dimiliki oleh wilayah lain di Indonesia. Kekayaan alam ini bukan milik generasi sekarang melainkan milik generasi yang akan datang.
Oleh karena itu seluruh peserta International seminar on Jambi Heritage menyadari pentingnya upaya nyata dan terpadu dari seluruh pemangku kepentingan, unsur masyarakat, dunia ilmu pengetahuan, dunia usaha, dan pemerintah bersama-sama melestarikannya.
Pelestarian ini adalah bukan tujuan perlindungan semata melainkan juga untuk memberi kesempatan kepada semua orang mengembangkan dan memanfaatkannya demi kesejahteraan masyarakat.
Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi, Didi Wurjanto mengaku bahagia soalnya upaya untuk menjadikan kawasan candi muaro Jambi dan geodeversity merangin sebagai warisan dunia mendapat dukungan banyak pihak.
Bahkan lebih dari 100 peserta yang ikut di dalam kegiatan ini terlihat sangat antusias mengikuti jalannya seminar hingga penutupan, tambah Didi Wurjanto.
"Saya sangat bahagia dengan semangat para peserta serta hasilnya. Meskipun acara ini berakhir bukan berarti langkah hanya sampai disini. Banyak pekerjaan menunggu kita ke depan. Saya optimis hal itu dapat terwujud dengan semangat kebersamaan," ujar Didi.
Narasumber dalam seminar ini dari berbagai negara dengan latar belakang yang beragam.
Di antaranya Masanori Nagaoka dari UNESCO Jakarta Office Prof Arlo Griffiths, seorang peneliti dari French School of Asia Studies (EFEO), Elizabeth seorang penulis dan wartawan.
Pembicara nasional di antaranya Kepala Badan Geologi Kementerian Enerji dan Sumber Daya Mineral Dr Ir Sukhyar, Direktur Peninggalan Purbakala pada Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Junus Satrio Atmodjo.
Di samping itu juga hadir Bambang Budi Utomo, soerang peneliti senior pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.
Prof Dr Mundardjito, soerang guru besar Universitas Indonesia, dan Fauzie Hasibuan peneliti pada Badan geologi Kementerian Enerji dan Sumber Daya Mineral juga menjadi narasumber di seminar itu.